hildajunandaharahap

A topnotch WordPress.com site

BAB IPENDAHULUA… Mei 31, 2012

Filed under: Uncategorized — hildajunandaharahap @ 7:40 am

BAB I

PENDAHULUAN

Pemisahan campuran menjadi komponen-komponennya merupakan hal yang penting dalam semua cabang ilmu kimia, bahkan banyak juga bidang yang lain yang telah mempergunakan teknik-teknik kimia untuk memecahkan berbagai macam permasalahan yang luas. Maka pengaruh penemuan teknik pemisahan yang berkemampuan tinggi akan sangat dirasakan manfaatnya dalam banyak ilmu pengetahuan modern. Salah satu tehnik pemisahan dalam ilmu kimia adalah teknik kromatografi.

Kromatografi digunakan untuk memisahkan campuran dari substansinya menjadi komponen- komponennya. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip yang sama yaitu seluruh bentuk kromatografi memiliki fase diam (berupa padatan atau cairan). Dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Berdasarkan fase gerak dan fase diam yang digunakan, kromatografi dibedakan menjadi kromatografi cair-padat (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud cair), kromatografi gas-padat (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud gas), kromatografi cair-cair (kromatografi dengan fase diam berwujud cair dan fase gerak berwujud cair), dan kromatografi gas-cair (kromatografi dengan fase diam berwujud cair dan fase gerak berwujud gas).

Berdasarkan interaksi komponen dengan fase diam dan fase gerak, kromatografi dibedakan menjadi kromatografi adsorpsi (kromatografi dengan teknik penyerapan komponen oleh adsorben tertentu), kromatografi partisi (kromatografi dengan partisi terjadi antara fase gerak dan fase diam), kromatografi pertukaran ion (kromatografi yang dapat memisahkan senyawa dengan afinitas ion yang berbeda dengan resin penukar ion), dan kromatografi permeasi atau filtrasi (kromatografi berdasarkan perbedaan bobot molekul).

Makalah ini hanya akan membahas tertang kromatografi kertas yang termasuk pada jenis kromatografi cair-cair dan kromatografi partisi. Prinsip dari kromatografi ini adalah dengan meneteskan sampel pada kertas di garis startnya, yang kemudian kertas dimasukkan dalam pelerut jenuh dan dibiarkan bergerak menuju garis finish. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan. Pada bab selanjutnya kromatografi ini akan dibahas lebih lanjut.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kromatografi Kertas

Kromatografi kertas adalah suatu metode pemisahan campuran dari substansinya menjadi komponen- komponennya berdasarkan distribusi suatu senyawa pada dua fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Fasa diam dalam kromatografi berupa air yang terikat pada selulosa kertas sedangkan fasa geraknya berupa pelarut organik non polar (pelarut yang sesuai).

Selulosa merupakan polimer dari gula sedehana yaitu glukosa. Rantai polimer dari selulosa memiliki gugus hidroksil (-OH) disekeliling strukturnya. Karena memiliki gugus -OH maka selulosa dapat berinteraksi dengan air oleh karena itu pada fase diam bersifat sedikit polar. Didalam kertas selulosa mengandung air yang berasal dari pembuatan kertas dan dari atmosfer. Dibawah ini adalah struktur dari selulosa.

 

Bila digunakan fasa diam yang lain, maka biasanya kertas akan dikeringkan, kemudian menggunakan fasa diam seperti glikol, formamide, dan alkohol. Pelarut (eluen) yang digunakan bisa berupa pelarut murni, atau campuran pelarut antara alkohol, asam-asam, ester, fenol dan amina.

Pemisahan pada kromatografi kertas terjadi kerena perbedaan kelarutan zat-zat dalam pelarut serta perbedaan penyerapan (adsorbsi) kertas terhadap zat-zat yang akan dipisahkan. Zat yang lebih larut dalam pelarut dan kurang teradsorbsi pada kertas akan bergerak lebih cepat. Sedangkan zat yang kurang larut dalam pelarut dan lebih teradsorbsi pada kertas akan tertinggal atau bergerak lebih lama.

Kromatografi kertas merupakan bentuk kromatografi yang paling sedehana mudah dan murah. Jenis kromatografi ini banyak digunakan untuk identifikasi kualitatif maupun untuk analisis kuantitatif. Penemu kromatografi kertas adalah Martri, Consden dan Gordon.

 

2.2. Teknik Kromatografi Kertas

  1. Teknik menaik (ascending), pada teknik menaik ini rembesan fasa gerak bergerak ke atas karena efek kapiler.
  2. Teknik menurun (descending), pada teknik menurun ini rembesan fasa bergerak ke bawah yang dikarenakan efek kapiler yang juga dibantu oleh efek gravitasi sehingga rembesan berjalan lebih cepat.

2.3. Metode Kromatografi Kertas

  1. Tahap penotolan cuplikan

 Mula-mula menyiapkan kertas kromatografi dengan ukuran tertentu. Kertas yang digunakan memiliki susunan serat kertas membentuk medium berpori yang bertindak sebagai tempat untuk mengalirnya fase bergerak. Lalu membuat garis awal dengan jarak 2-3 cm dengan salah satu ujung kertas dengan menggunakan pensil. Selanjutnya totolkan larutan cuplikan dengan menggunakan mikropipet atau pipa kapiler pada garis awal tadi, kemudian keringkan.

Misalkan Kita ingin mengetahui tinta mana yang digunakan untuk menulis pesan. Dalam diagram pena diberi label 1, 2 dan 3 dan tinta pesan sebagai M.

 2. Tahap pengembangan

 Pada tahap ini ujung kertas kromatografi dekat garis awal yang telah berisi totolan cuplikan dicelupkan ke dalam pelarut (pelarut untuk contoh ini misalnya etanol) yang terdapat di dalam bejana kromatografi. Pencelupan diusahakan tidak merendam totolan cuplikan atau garis awal. Kemudian bejananya ditutup.

 

Biarkan pelarut merembes melewati totolan cuplikan. Komponen-komponen cuplikan akan terbawa oleh rembesan cuplikan. Perbedaan kelarutan komponen-komponen cuplikan dalam pelarut akan mengakibatkan kecepatan bergerak komponen-komponen dalam kertas juga berbeda. Perbedaan kecepatan bergerak komponen-komponen ini lebih umum disebut migrasi deferensial. Pemisahan komponen-komponen ini terjadi karena migrasi deferensial. Hasil pemisahan akan nampak sebagai noda-noda berwarna pada kertas dengan jarak yang berbeda-beda dari garis awal. Noda-noda ini selanjutnya disebut sebagai kromatogram. Perembesan pelarut dihentikan setelah pelarut hampir mencapai ujung kertas. Pekerjaan selanjutnya adalah memberi tanda batas gerakan pelarut, dan kemudian kertas diangkat dari cairan pengelusi untuk seterusnya dikeringkan.

 

3. Tahap identifikasi atau penampakan noda.

 

Dari contoh kromatogram yang dihasilkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang mengandung pewarna yang sama dengan pena yang digunakan untuk membuat pesan adalah nomor 2. Pada kasus ini, tidak dibutuhkan pengukuran nilai , karena kita dapat melihat secara langsung perbandingan warnanya pada kertas kromatogram. Tetapi, bila kita menguji sampel dengan menggunakan satu kertas untuk satu sampel, maka kita harus menghitung nilai  nya.

 

Menghitung nilai Rf 

            Rf (rate of flow) menyatakan derajad retensi suatu komponen dalam fase diam. Karena itu Rf juga disebut faktor refensi. Rf adalah jarak tempuh relatif terhadap pelarut. Harga Rf mengukur kecepatan bergeraknya zona relatif terhadap garis depan pengembang. Kromatografi yang dihasilkan diuraikan dan zona-zona dicirikan dengan nilai-nilai Rf. Nilai Rf didefinisikan oleh hubungan:

 

 

            Pengukuran ini dilakukan dengan mengukur jarak dari titik pemberangkatan (pusat zona campuran awal) ke garis depan pengembang dan pusat rapatan tyiap zona. Nilai Rf harus sama baik pada descending maupun ascending. Nilai Rf akan menunjukkan identitas suatu zat yang dicari.

            Misalnya, jika salah satu komponen dari campuran berpergian 9,6 cm dari garis dasar sedangkan pelarut telah melakukan perjalanan 12,0 cm, maka nilai Rf untuk komponen itu adalah:

 

 

Jika percobaan diulang pada kondisi yang tetap sama, nilai  yang akan diperoleh untuk setiap warna akan selalu sama. Namaun, jika terdapat perubahan suhu komposisi pelarut ataupun sebagainya, maka nilai  nya akan berubah.

            Setiap komponen mempunyai harga Rf sendiri-sendiri. Dengan menggunakan zat baku noda dapat diidentifikasikan.

            Bila noda tidak berwarna, langkah pertama yang harus diambil adalah menampakkan noda tersebut. Penampakan noda dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menyemprot kertas dengan pereaksi penimbul warna ditizon, ninhidrin, kalium kromat, amonium sulfida dan lain-lain.
  2. Menyinari sinar dengan sinar ultra violoet.
  3. Mendedahkan kertas pada uap iodium.

Kemudian langkah selanjutnya adalah menentukan harga Rf masisng-masing dari noda, seperti yang telah disebutkan diatas.

            Misalnya kita mempunyai campuran asam amino dan ingin mengetahui asam amino tertentu yang terkandung dalam campuran. Maka caranya adalah totolkan setetes kecil campuran pada garis dasar kertas, dan bintik-bintik kecil yang serupa dari asam amino yang dikenal ditempatkan disamping itu. Kemudian kertas dimasukkan kedalam pelarut yang sesuai untuk mengembangkan seperti metode sebelumnya. Dalam diagram, campuran adalah M, dan asam amino yang dikenal diberi lebel 1 sampai 5. Kemudian posisi depan pelarut ditandai dengan pensil dan dikeringkan. Setelah kering, untuk memunculkan warna semprotkan dengan ninhidrin. Ninhidrin bereaksi dengan asam amino untuk memberikan senyawa berwarna, utamanya coklat atau ungu.

 

            Tidak perlu mengukur nilai Rf karena kita dapat dengan mudah membandingkan bercak dalam campuran dengan  posisi mereka dan warna mereka. Pada kromatogram diatas, campuran mengandung asam amino 1, 4, dan 5.

2.4. Kromatografi Kertas Dua Arah

            Kromatografi kertas dua arah digunakan dalam menyelesaikan masalah pemisahan substansi yang memiliki nilai  yang sangat serupa. Pada prosesnya menggunakan dua pelarut yang berbeda.

            Misalnya kita menggunakan zat warna sebagai sampel. Prosedur yang harus dilakukan adalah:

1. Tahap pertama

Mula-mula titik tunggal campuran ditempatkan pada salah satu ujung garis dasar. Kemudian masukkan kedalam pelarut seperti yang sebelumnya hingga pelarut mendekati ke atas kertas.

2. Tahap kedua

            Pada kromatogram, posisi depan pelarut ditandai dengan pensil sebelum kertas mengering, diberi lebel sebagai SF1. Kemudian masukkan kedalam pelarut yang pertama, dihasilkan titik sentral besar dalam kromatogram yaitu sebagian biru dan sebagian hijau. Dua pewarna dalam campuran memiliki nilai  yang sudah hampir sama.

3. Tahap ketiga

            Menunggu kertas kering sepenuhnya, dan kemudian memutar kertas sampai 900 dan kemudian mengembangkan kromatografi lagi di dalam suatu pelarut yang berbeda. Bintik-bintik akan bergerak dengan jumlah yang berbeda, hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan nilai . Jika kita ingin mengidentifikasi titik-titik dalam campuran maka kita harus menghitung nilai  nya untuk disetiap tempat, dan kemudian membandingkannya dengan nilai-nilai yang telah diukur untuk senyawa yang dikenal dengan kondisi yang sama persis. Apabila kita mengidentifikasinya dengan zat pembanding pada kromatogram yang sama seperti yang dilakukan diawal dengan pena, maka kita tidak bisa mengidentifikasinya. Karena campuran yang dipisahkan pada contoh ini terpisah menjadi empat tempat yang berbeda.

Prosesnya terlihat pada gambar dibawah ini.

 

 

2.5. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

            Aplikasi teknik pemisahan kromatografi kertas dalam kehidupan sehari-hari adalah:

  1. Menentukan komponen yang terkandung dalam uang logam.

Cara kerjanya adalah pertama-tama uang logam warna kuning dan putih dicuci dan disikat, kemudian ditambahkan dengan HCl pekat sebagai pelarut pemisah komponen uang logam. Selanjutnya cuplikan dari tetesan tersebut ditotolkan di kertas kromatografi bersama dengan cuplikan HCl pekat, cuplikan CuSO4, dan cuplikan NiSO4. Fase diam pada percobaan ini adalah lapisan pelarut yang teradsorbsi pada permukaan kertas berupa kertas kromatografi dan fase geraknya adalah bagian dari pelarut yang berfungsi menggerakkan eluen berupa campuran n-butanol, asam asetat glasial, dan air (untuk uang logam putih) dan campuran n-butanol, etanol, dan amoniak 2M (untuk uang logam kuning). Pada percobaan ini, kromatografi kertas dilakukan secara ascending diamana pelarut yang terdapat dibawah akan bergerak keatas pada kertas yang tercelup di dalamnya. Penjenuhan dengan uap pelarut bertujuan untuk mempercepat terjadinya elusi atau pergerakan komponen-komponen sampel pada media kertas kromatografi.

Maka hasil akhirnya adalah untuk uang logam warna kuning cuplikan dari uang logam tersebut memiliki nilai Rf yang hampir sama dengan cuplikan CuSO4 sehingga dapat disimpulkan bahwa logam tersebut bahan penyusunnya adalah tembaga. Sedangkan untuk uang logam putih tidak memiliki nilai Rf yang sama dengan CuSO4 maupun dengan NiSO4. Karena memang logam putih ini terbuat dari aluminium maka tidak terdeteksi pada percobaan ini.

  1. Menguji apakah bahan pewarna yang digunakan dalam makanan aman atu tidak untuk dikonsumsi.
  2. Menguji tinta yang digunakan pada pemalsuan dokumen, seperti surat perjanjian, cek dan giro.
  3. Menguji apakah terdapat obat terlarang dalam urin manusia.
  4. Memeriksa apakah pestisida yang terdapat dalam sayuran atau bahan-bahan masih dalam batas aman atau tidak.
  5. Mengetahui kandungan asam amino tertentu dari campuran asam amino.
  6. Dapat mengidentifikasikan keberadaan suatu unsur.

Misalnya ingin mengidentifikasi logam Ag, Pb dalam larutan pengembang asam asetat. Caranya yaitu:

Mula-mula kertas kromatografi disiapkan, dan ditarik batas pensil kira-kira 2 cm dari pinggir kertas. Lalu kertas dibagi menjadi empat kolom dan di beri nomor pada tiap kolomnya. Pada kolom 1 dan 3 ditetesi dengan larutan cuplikan A dan B, kolom 2 dan 4 dengan larutan baku Ag dan Pb (II). Sementara itu larutan pengembang disiapkan yang berisi 12,5 ml larutan asam asetat dan air. Masukkan kertas kromatografi kedalam larutan pengembang kemudian ditutup. Selanjutnya kertas diambil dari dalam larutan bila kertas mencapai ¾ larutan pengembang. Kemudian pada kertas diberi tanda batas dengan menggunakan pensil dan kemudian kertas dikeringkan. Kemudian setiap kolom digunting dan disemprotkan dengan pereaksi pengenal. Larutan Ag dengan dikromat menghasilkan warna merah dan Pb (II) dengan KI menghasilkan warna kuning. Setelah warna tampak, jarak perpindahan dari tiap komponen diukur dan dihitung nilai Rf. Dari data yang telah diperoleh kita gunakan asam oksalat sebagai pelarut. Dan diperoleh masing- masing untuk kelarutan cuplikan A dan B, serta logam Ag dan Pb.

 

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

            Kromatografi kertas merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan prinsip zat terlarut yang terdistribusi antara dua fase yang digunakan, yaitu fase diam (air yang terikat pada selulosa kertas) dan fase gerak (pelarut yang sesuai). Kromatogarfi mampu memisahkan campuran dari substansinya menjadi komponen-komponennya.

            Pemisahan pada kromatografi kertas terjadi kerena perbedaan kelarutan zat-zat dalam pelarut serta perbedaan penyerapan (adsorbsi) kertas terhadap zat-zat yang akan dipisahkan. Zat yang lebih larut dalam pelarut dan kurang teradsorbsi pada kertas akan bergerak lebih cepat. Sedangkan zat yang kurang larut dalam pelarut dan lebih teradsorbsi pada kertas akan tertinggal atau bergerak lebih lama.

            Teknik Kromatografi Kertas ada dua macam, yaitu teknik menaik (ascending), pada teknik menaik ini rembesan fasa gerak bergerak ke atas karena efek kapiler, dan teknik menurun (descending), pada teknik menurun ini rembesan fasa bergerak ke bawah yang dikarenakan efek kapiler yang juga dibantu oleh efek gravitasi sehingga rembesan berjalan lebih cepat.

            Metode/ cara kerja dari kromatografi kertas adalah tahap pertama tahap pentotolan cuplikan, tahap kedua tahap pengembangan dan ketiga tahap identifikasi atau penampakan noda.

 

DAFTAR PUSTAKA

Day, R.A dan Underwood. 1981. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Keempat. Jakarta: erlangga

Soebagio, dkk. 2002. Kimia Analitik II. Malang: FMIPA universitas negeri Malang

http://worldofandika.blogspot.com/2010/06/kromatografi-kertas-dan-kromatografi.html

http://kickylover.blogspot.com/2010/06/kromatografi-kertas.html

http://jurnalramadhan.blogspot.com/2010/09/uji-kit-test-kehamilan.html

 

 

IKATAN LOGAM

Filed under: Uncategorized — hildajunandaharahap @ 7:17 am

MAKALAH IKATAN KIMIA

IKATAN LOGAM

 

D

I

S

U

S

U

N

 OLEH:

 

HILDA JUNANDA BR HARAHAP

(4103331019)

 

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

            Salah satu jenis ikatan kimia antaratom adalah ikatan logam. Ikatan logam didefinisikan sebagai ikatan antaratom logam tanpa membentuk suatu molekul.

Sifat-sifat atom logam adalah:

  1. Memiliki kemampuan menghantarkan arus listrik/ panas yang baik.
  2. Keras, dapat ditempah dan ditarik.
  3. Tersusun dalam kristal logam dalam bentuk padatnya.
  4. Memiliki titik didih dan titik leleh yang tinggi.
  5. Mengkilap.

Sifat-sifat logam diatas tidak bisa dijelaskan dengan ikatan ion, karenan tidak mungkin terjadi perpindahan elektron antaratom yang sejenis, dan tidak bisa juga dijelaskan dengan ikatan kovalen karena tidak mungkin ikatan kovalen terjadi pada atom logam, sehingga ikatan yang terdapat dalam logam ini dikhususkan dalam ikatan logam.

Dalam bab selanjutnya akan dibahas mengenai teori ikatan logam yang dapat menjelaskan sifat-sifat logam diatas, serta klasifikasi ikatan logam, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kuat lemahnya ikatan logam.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. IKATAN LOGAM

A. Fakta Eksperimen

            Untuk menjelaskan mengenai ikatan logam, diuraikan beberapa teori yang menjelaskan ikatan yang terjadi pada atom-atom logam yaitu sebagai berikut:

a. Teori awan elektron

            Teori ini dikemukakan oleh Drude dan Lorentz pada awal abad ke-20. Menurut teori ini, di dalam kristal logam terdiri dari ion-ion logam bermuatan positif (kation) yang tersusun rapat dalam awan elektron. Awan elekton ini merupakan elektron valensi yang dilepaskan oleh setiap atom. Elektron valensi ini tidak terikat salah satu ion logam atau pasangan ion logam, tetapi terdelokalisasi terhadap semua ion logam. Hal ini disebabkan oleh tumpang tindih (overlap) orbital valensi dari atom-atom logam. Akibatnya elektron-elektron yang ada pada orbitalnya dapat berpindah ke orbital valensi atom tetangganya. Karena hal inilah elektron-elektron valensi akan terdelokaslisasi pada semua atom yang terdapat pada logam membentuk awan atau lautan elektron, sehingga elektron valensi tersebut bebas bergerak keseluruh bagian dari kristal logam. Elektron-elektron bebas inilah yang menyebabkan adanya ikatan dalam kristal logam. Misalnya logam magnesium yang memiliki 2 elektron valensi. Berdasarkan model awan elektron, logam magnesium dapat dianggap terdiri dari ion positif Mg2+ yang tersusun secara teratur, berulang dan disekitarnya terdapat awan atau lautan elektron yang dibentuk dari elektron valensi magnesium, seperti pada Gambar.

Maka, teori awan atau lautan elektron pada ikatan logam itu didefinisikan sebagai gaya tarik antara muatan positif dari ion-ion logam (kation logam) dengan muatan negatif yang terbentuk dari elektron-elektron valensi dari atom-atom logam. Jadi logam yang memiliki elektron valensi lebih banyak akan menghasilkan kation dengan muatan positif yang lebih besar dan awan elektron dengan jumlah elektron yang lebih banyak atau lebih rapat. Hal ini menyebabkan logam memiliki ikatan yang lebih kuat dibanding logam yang tersusun dari atom-atom logam dengan jumlah elektron valensi lebih sedikit.

Teori lautan atau awan elektron ini dapat menjelaskan berbagai sifat fisika dari logam.

1. Logam dapat ditempa, dapat dibengkokkan, direntangkan dan tidak rapuh

Hal ini disebabkan atom-atom logam tersusun secara teratur dan rapat sehingga ketika diberi tekanan atom-atom tersebut dapat tergelincir di atas lapisan atom yang lain seperti yang ditunjukan pada Gambar.

Gambar perpindahan atom pada suatu logam ketika diberi tekanan atau ditempa

Gambar di atas menjelaskan mengapa logam dapat ditempa, direntangkan ataupun dibengkokkan, karena pada logam tersebut semua atom sejenis sehingga atom-atom yang bergeser saat diberi tekanan seolah-olah tetap pada kedudukan yang sama. Dengan kata lain apabila sebuah ikatan logam putus maka akan segera terbentuk ikatan logam baru.

2. Sifat Mengkilap

            Di dalam ikatan logam, terdapat elektron-elektron bebas. Sewaktu cahaya jatuh pada permukaan logam, maka elektron-elektron bebas akan menyerap energi cahaya tersebut. Elektron-elektron akan melepas kembali energi tersebut dalam bentuk radiasi elektromagnetik dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi cahaya awal. Oleh karena frekuensinya sama, maka kita melihatnyta sebagai pantulan cahaya yang datang. Pantulan cahaya tersebut memberikan permukaan logam tampak mengkilap.

Bila Cahaya tampak jatuh pada permukaan logam, sebagian elektron valensi yang mudah bergerak tersebut akan tereksitasi. Ketika elektron yang tereksitasi tersebut kembali kepada keadaan dasarnya, maka energi cahaya dengan panjang gelombang tertentu akan dipancarkan kembali. Peristiwa ini dapat menimbulkan sifat kilap yang khas pada logam.

3. Daya hantar listrik

            Di dalam ikatan logam, terdapat elektron valensi yang bebas (mudah bergerak) yang dapat membawa muatan listrik. Jika diberi suatu beda tegangan, maka elektron-elektron ini akan bergerak dari kutub negatif menjadi kutub positif.

       Gambar pergerakan elektron

4. Daya hantar panas

            Elektron-elektron yang bergerak bebas di dalam kristal logam memiliki energi kinetik. Jika dipanaskan, elektron-elektron akan memperoleh energi kinetik yang cukup untuk dapat bergerak/bervibrasi dengan cepat. Dalam pergerakannya, elektron-elektron tersebut akan bertumbukkan dengan elektron-elektron lainnya. Hal ini menyebabkan terjadinya transfer energi dari bagian bersuhu tinggi ke bagian bersuhu rendah.

Gambar perpindahan energi dalam kristal logam

5. Titik didih dan titik leleh tinggi

Pada logam, Ikatan logam tidak sepenuhnya putus sampai logam mendidih ini menunjukkan bahwa ikatan logam memiliki titik didih yang tinggi. Hal ini dikarenakan atom-atom logam terikat oleh ikatan logam yang kuat. Untuk mengatasi ikatan tersebut, diperlukan energi dalam jumlah yang besar.

b. Ikatan logam berdasarkan teori resonansi

            Pada tahun 1965 Pauling mengemukakan ikatan logam dengan menetapkan konsep resonansi. Menurut teori ini ikatan logam merupakan ikatan kovalen dan sesuai dengan struktur kristal logam yang dapat diamati pada eksperimen maka dapat diperkirakan teradi resonansi. Dalam mengembangkan teorinya Pauling meninjau kristal logam Li. Dari tafsiran analisis terhadap pola difraksi sinar-X oleh kristal logam Li dapat diketahui bahwa setiap atom Li dikelilingi oleh 8 atom Li yang lain. Karena elekton valensi Li adalah 1, maka tidak mungkin 1 atom Li nmengikat 8 atom Li lainnya.

            Bila atom Li menggunakan elektron valensinya, maka resonansi pasangan ikatan Li-Li terjadi secara serempak didalam kisi kristalnya. Dinyatakan dalam 2 dimensi, resonansi yang memungkinkan adalah:

            Pada struktur III, IV, V, VI terdapat sebuah atom Li yang bermuatan negatif membentuk ikatan kovalen dengan 2 atom Li yang lain. Terjadinya ikatan kovalen dapat dijelaskan sebagai berikut:

Empat atom Li yaitu Lia Lib Lic Lid masing-masing mempunyai struktur elektron 1s2 2s1 2  2  2 . Bila atom Lid memberikan elektron valensinya pada atom Libmaka Lid menjadi ion  (1s2)dan atom Lib menjadi Lib (1s2 2s1 2  2  2 ). Orbital 2s1 dan 2  pada ion Lib membentuk orbital hibrida sp yang masing-masing dapat membentuk ikatan kovalen dengan atom Lia dan Lic. Orbital 2  dan 2  pada ion Lib  yang disebut orbital logam dapat menerima aliran elektron dan memberi sumbangan pada daya hantar listrik.

c. Teori Pita

            Teori ini dikembangkan pada tahun 1970 mempergunakan teori orbital molekul. Ikatan logam mudah dipahami dengan memberi teori orbital molekul ini. Misalnya pada logam Li memiliki susunan elektron 1s2 2s1. Elektron 1s2  terdapat dalam orbital yang terarah (localized) sedangkan elektron dalam 2s1 terdapat pada orbital tidak terarah (delocalized). Elektron 2s inilah yang akan membentuk ikatan.

            Bila dua atom Li mendekat, orbital atom 2s akan bergabung dengan orbital atom 2s dari atom lain membentuk dua orbital molekul, yaitu orbital molekul bonding dan anti bonding. Bila atom ketiga mendekat, terbentuk tiga orbital molekul, dan seterusnya. Jadi jumlah molekul sama dengan jumlah atonya. Bila N atom litium bersatu, terbentuk N orbital molekul dengan energi berbeda-berda yang membentuk pita energi, dengan distribusi energi yang kontinyu.

Gambar Pembentukan Pita energi

Dalam Litium, Elektron-elektron yang berasal dari orbital 2s kedua atom Li, akan menempati orbital molekul bonding, sedangkan pada orbital molekul antibonding tidak terdapat elektron. Pada pembentukan molekul Li3, terdapat 1 orbital molekul bonding yang berisi 2 elektron, 1 orbital molekul nonbonding dimana terdapat sebuah elektron dan 1 orbital molekul antibonding yang masih kosong. Pada pembentukan molekul Li4, terdapat 2 orbital molekul bonding yang masing-masing berisi 2 elektron dan 2 orbital molekun antibonding yang masih kosong. Proses ini dapat diperluas ke atom yang ke N, meliputi seluruh atom dalam kristal Li. Hal ini mengakibatkan dihasilkan orbital molekul sejumlah N, yang mempunyai perbedaan energi. Sebagai akibatnya adalah bahwa N atom Li yang terdapat dalam kisi kristalnya akan memberntuk N/2 orbital molekul bonding dan N/2 orbital molekul antibonding. N/2 orbital molekul bonding yang terjadi mempunyai tingkat energi yang hampir sama dan menempati ruang yang sangat berdekatan sehingga menjadi kontinyu.

            Baik kelompok orbital molekul antibonding, maupun kelompok orbital bonding yang kontinyu tersebut akan berupa pita. Pita terbentuk bila orbital-orbital 2s pada atom-atom Li membentuk orbital molekul dapat digambarkan seperti gambar dibawah ini.

Gambar pita valensi dan pita konduktor logam Li

            Bagian dari pita 2s di mana terdapat elektron valensi disebut pita valensi dan tingkat energi tertinggi pada pita valensi disebut energi fermi EF. Dibagian atas tingkat fermi terdapat tingkat-tingkat energi yang masih kosong yang disebut pita konduksi, karena elektron dapat mengalir melalui pita orbital molekul tersebut.

            Kesenjangan antara pita valensi dan pita konduksi yang disebut kesenjangan energi merupakan ukuran kemudahan suatu logam untuk menghantarkan listrik. Bila logam dihubungkan dengan sumber arus atau medan magnit, elektron yang berada disekitar tingkat fermi memperoleh tambahan energi yang menyebabkan tingkat energinya naik, sehingga dapat pindah kedalam pita konduksi yang masih kosong dan arus elektron listrik mengalir melalui pita konduksi tersebut.

            Dikenal logam-logam yang tidak begitu baik menghantarkan listrik (semikonduktor) disamping logam-logam yang menghantarkan arus listrik dengan baik (konduktor). Hal ini bergantung pada susunan atom logam dalam kristalnya dan suhu. Sifat-sifat tersebut dapat dijelaskan dengan teori pita.

Gambar kesenjangan pita valensi dengan pita konduksi pada konduktor, semikonduktor dan isolator.

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa pada konduktor tidak terdapat kesenjangan antara pita konduksi dengan pita konduksi, sehingga karena pertambahan energi yang cukup kecil elektron-elektron valensi dapat berpindah ke pita konduksi dan arus mengalir melalui konduktor.

Pada logam semikonduktor terdapat kesenjangan antara pita valensi dan pita konduksi sedemikian rupa. Sehingga hanya elektron-elektron yang mempunyai energi memadai saja yang dapat berpindah ke pita konduksi.

Pada isolator, terdapat kesenjangan antara pita valensi dan pita konduksi yang besar, sehingga energi yang ditimbulkan medan listrik tidak dapat menghasilkan ekektron yang tidak mempunyai energi yang memadai untuk dapat berpindah ke pita konduksi, karena itu isolator tidak dapat menghantarkan arus listrik.

B. Definisi dan Contoh

Dari teori diatas maka dapat disimpulkan beberapa definisi dari ikatan logam yaitu:

1.  Ikatan logam adalah ikatan yang terbentuk akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi antara muatan positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-elektron yang bebas bergerak yang dihasilkan oleh elektron valensi masing-masing logam.

2.  Ikatan logam adalah ikatan yang terjadi antara atom logam dengan 8 atau 12 atom logam yang lainnya. Misalnya ikatan antara logam Na dengan 8 logam Na yang lainnya.

3. Ikatan logam adalah ikatan yang disebabkan oleh adanya elektron valensi suatu logam yang tidak terarah (delocalized). Misalnya pada logam Li memiliki struktur 1s2 2s1. Elektron 1s2  terdapat dalam orbital yang terarah (localized) sedangkan elektron dalam 2s1 terdapat pada orbital tidak terarah (delocalized). Elektron 2s inilah yang akan membentuk ikatan.

4.  Ikatan logam adalah ikatan yang disebabkan oleh tumpang tindih (overlap) orbital valensi dari atom-atom logam. Akibatnya elektron-elektron yang ada pada orbitalnya dapat berpindah ke orbital valensi atom tetangganya.

5. Ikatan logam adalah ikatan antara inti positif unsur logam di dalam lautan elektron yang dihasilkan oleh elektron valensi unsur logam yang bersangkutan.

Pembentukan Ikatan Logam

Logam memiliki sedikit elektron valensi dan memiliki elektronegativitas yang rendah. Semua jenis logam cenderung melepaskan elektron terluarnya sehingga membentuk ion-ion positif /kation logam. Kulit terluar unsur logam relatif longgar (terdapat banyak tempat kosong) sehingga elektron terdelokalisasi, yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi  tidak tetap posisinya pada suatu atom, tetapi senantiasa berpindah pindah dari satu atom ke atom lainnya.

Elektron valensi logam bergerak dengan sangat cepat mengitari intinya dan berbaur dengan elektron valensi yang lain dalam ikatan logam tersebut sehingga menyerupai “awan” atau “lautan” yang membungkus ion-ion positif di dalamnya. Elektron bebas dalam orbit ini bertindak sebagai perekat atau lem. Kation logam yang berdekatan satu sama lain saling tarik menarik dengan adanya elektron bebas sebagai ”lemnya”. Dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini.

Contoh-contoh Ikatan logam adalah:

1. Ikatan Logam Natrium

Natrium memiliki konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s1. Tiap atom Natrium tersentuh oleh delapan atom natrium yang lainnya dan terjadi pembagian (sharing) antara atom tengah dan orbital 3s di semua delapan atom yang lain. Dan tiap atom yang delapan ini disentuh oleh delapan atom natrium lainya secara terus menerus hingga diperoleh seluruh atom dalam bongkahan natrium. Semua orbital 3s dalam semua atom saling tumpang tindih untuk memberikan orbital molekul dalam jumlah yang sangat banyak yang memeperluas keseluruhan tiap bagian logam.

Elektron dapat bergerak dengan leluasa diantara orbital-orbital molekul tersebut, dan karena itu tiap elektron menjadi terlepas dari atom induknya. Logam terikat bersamaan melalui kekuatan daya tarik yang kuat antara inti positif dengan elektron yang terdelokalisasi.

Gambar inti positif Na yang terikat pada elektron yang terdelokalisasi

2. Ikatan Logam Magnesium

Ikatan logam magnesium lebih kuat dan titik leleh juga lebih tinggi dibanding dengan ikatan logam pada natrium. Magnesium memiliki struktur elektronik terluar 3s2. Diantara elektro-elektronnya terjadi delokalisasi, karena itu “lautan” yang ada memiliki kerapatan dua kali lipat daripada yang terdapat pada natrium. Sisa “ion” juga memiliki muatan dua kali lipat dan tentunya akan terjadi dayatarik yang lebih banyak antara “ion” dan “lautan”. Atom-atom magnesium memiliki jari-jari yang sedikit lebih kecil dibandingkan atom-atom natrium dan karena itu elektron yang terdelokalisasi lebih dekat ke inti.

 

Gambar inti positif Mg yang terikat pada elektron yang terdelokalisasi

C. Klasifikasi

Klasifikasi ikatan logam menurut golongannya adalah:

1. Ikatan Logam pada Unsur Transisi

Logam transisi cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi. Alasannya adalah logam transisi dapat melibatkan elektron 3d yang ada dalam kondisi delokalisasi seperti elektron pada 4s. Lebih banyak elektron yang dapat terlibat, kecenderungan daya tarik akan semakin lebih kuat. Contoh ikatan logam pada unsur transisi transisi adalah Ag, Fe, Cu dan lain-lain.

2. Ikatan logam pada unsur golongan utama

            Ikatan logam pada unsur golongan utama relatif lebih lemah dibandingkan dengan dengan unsur golongan transisi. Contohnya kristal besi lebih kuat dibandingkan dengan kristal logam magnesium.

Berdasarkan unsur penyusunnya dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Ikatan logam antar unsur sejenis

            Misalnya Ikatan antara unsur litium dengan unsur litium yang lainnya.

2. Ikatan logam antar unsur yang berbeda jenis (aloi).

Bahan-bahan logam yang bukan hanya dibuat dari satu jenis unsur logam tetapi telah dicampur atau ditambah dengan unsur-unsur lain disebut aloi atau sering disebut lakur atau paduan.

Aloi terbentuk apabila leburan dua atau lebih macam logam dicampur atau leburan suatu logam dicampur dengan unsur-unsur nonlogam yang campuran tersebut tidak saling bereaksi serta masih menunjukan sifat sebagai logam setelah didinginkan.

Aloi dibagi menjadi dua macam yaitu aloi selitan dan aloi substitusi. Disebut aloi selitan bila jari-jari atom unsur yang dipadukan sama atau lebih kecil dari jari-jari atom logam. Sedangkan aloi substitusi terbentuk apabila jari-jari unsur yang dipadukan lebih besar dari jari-jari atom logam.

D. Faktor yang Mempengaruhi Ikatan

1. Titik leleh dan titik didih

Logam-logam cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi karena kekuatan ikatan logam. Kekuatan ikatan berbeda antara logam yang satu dengan logam yang lain. Titik leleh dan titik didih logam berkaitan langsung dengan kekuatan ikatan logamnya. Titik didih dan titik leleh logam makin tinggi bila ikatan logam yang dimiliki makin kuat. Contohnya pada logam alkali semakin kebawah titik didih semakin rendah sehingga ikatan logamnya akan semakin lemah.

Logam

Titik lebur (°C)

Titik didih (°C)

Li

180

1330

Na

97,8

892

K

63,7

774

Rb

38,9

688

Cs

29,7

690

Titik didih dan titik leleh berhubungan dengan sifat periodik unsur yaitu sifat jari-jari atomnya. Semakin besar jari-jari atomnya maka semakin kecil titik didih dan titik lelehnya sehingga mengakibatkan ikatan lebih lemah.

2. Jari-jari atom

Dalam sistem periodik unsur, pada satu golongan dari atas kebawah, ukuran kation logam dan jari-jari atom logam makin besar.  Hal ini menyebabkan jarak antara pusat kation-kation logam dengan awan elektronnya semakin jauh, sehingga gaya tarik elektrostatik antara kation-kation logam dengan awan elektronnya semakin lemah.

 

Logam

Jari-jari atom logam (pm)

Kation logam

Jari-jari kation logam (pm)

Li

157

Li+

106

Na

191

Na+

132

K

235

K+

165

Rb

250

Rb+

175

Cs

272

Cs+

188

 

 3. Jumlah elektron valensi (elektron yang terdelokalisasi)

Logam-logam golongan 1 seperti natrium dan kalium memiliki ikatan logam yang relatif rendah karena tiap atomnya hanya memiliki satu elektron untuk dikontribusikan pada ikatan. Sedangkan pada logam golongan II seperti magnesium memiliki dua elektron untuk dikontribusikan pada ikatan sehingga logam golongan II  memiliki ikatan yang relatif lebih kuat dibanding logam golongan 1.

4. Bilangan koordinasi

            Logam natrium dikelilingi oleh delapan logam natrium yang lainnya, sedangkan logam magnesium dikelilingi oleh dua belas logam magnesium lainnya. Hal ini menyebabkan ikatan logam pada magnesium lebih besar dibandingkan dengan ikatan logam pada natrium.


BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

            Ikatan logam adalah ikatan yang terjadi akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi antara muatan positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-elektron yang bebas bergerak yang dihasilkan oleh elektron valensi masing-masing logam.

            Sifat-sifat dari logam (dapat ditempa, menghantarkan arus listrik, mengkilap, dan titik didih yang tinggi) dapat dijelaskan dengan teori awan elektron, teori resonansi dan teori pita.

            Teori pita dapat menjelaskan mengenai sifat logam sebagai konduktor, semikonduktor dan isolator.

            Faktor-faktor yang mempengaruhi kuatnya ikatan logam adalah:

  1. Titik didih dan titik leleh.
  2. Jari-jari atom.
  3. Bilangan koordinasi.
  4. Jumlah elektron valensi yang terdelokalisasi.

 

Daftar Pustaka

Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Sukardjo. 1990. Ikatan Kimia. Yogyakarta: Rineka Cipta

Sukardjo. 1985. Kimia Fisika. Yogyakarta: Bina Aksara

Syarifuddin, Nuraini. 1985. IKATAN KIMIA. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

Syarifuddin, Nuraini. 2002. IKATAN KIMIA. Jakarta: Universitas Terbuka

http://wanibesak.wordpress.com/2011/06/27/ikatan-logam-sifat-sifat-logam-dan-alloy/

http://rahmikimia.wordpress.com/kimia-kelas-x/3-ikatan-kimia-2/c-ikatan-logam/

http://rahmaddhany040608.blogspot.com/2011/07/ikatan-logam.html

 

 

Protein dalam Makanan

Filed under: Uncategorized — hildajunandaharahap @ 7:06 am

BAB I

PENDAHULUAN

Istilah protein berasal dari kata yunani yaitu proteos, yang berarti yang utama. Protein merupakan komponen penting pada sel hewan dan manusia, karena protein merupakan zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh setiap organisme dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air.

Dalam kehidupan protein memegang peranan yang penting. Misalnya proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Disamping itu hemoglobin dalam butir-butir darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen, juga sutu protein.

Protein mempunyai fungsi sebagai pembangun struktur, misalnya rambut, kulit, kuku, otot urat-urat dan jaringan ikat. Sebagai katalisator misalnya enzim-enzim. Sebagai sistem pertahanan tubuh misalnya antibody dan fibrinogen. Sebagai transport, misalnya hemoglobin, albumin, lipoprotein, transferin, serum. Dan sebagai pengatur (regulasi) misalnya hormone-hormon dan berbagai fungsi lain.

Sintesis protein dalam tubuh hanya dapat terjadi bila tersedia 20 jenis asam amino yang digunakan untuk menyusun rangkaian polipeptida (protein) tersebut. Sebagian besar asam-asam amino tersebut harus didatangkan dari makanan. Asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh dan harus diperoleh dari makanan disebut asam amino esensial  sedangkan asam amino yang dapat disintesis didalam tubuh disebut asam amino non esensial.

Tabel Asam Amino Esensial Dan Non Esensial Untuk Manusia

Asam Amino Esensial

Asam Amino Non Esensial

Isoleusin

Leusin

Lisin

Metionin

Arginin

Treonin

Triptofan

Valin

Fenilalanin

Histidin

Glutamat

Glutamin

Prolin

Aspartat

Asparagin

Alanin

Glisin

Serin

Sistein

Tirosin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.1 MUTU PROTEIN

Mutu protein bahan makanan ditentukan oleh jenis dan proporsi asam amino yang di kandungnya. Protein komplit atau protein dengan nilai biologi tinggi atau bermutu tinggi adalah protein yang mengandung semua jenis asam amino esensial dalam proporsi yang sesuai untuk keperluan pertumbuhan, yaitu semua protein hewani kecuali gelatin, merupakan protein komplit. Protein tidak komplit atau protein bermutu rendah adalah protein yang tidak mengandung atau mengandung dalam jumlah yang kurang satu atau lebih asam amino esensial, yaitu sebagian besar protein nabati kecuali kacang kedelai dan kacang-kacang lain merupakan protein tidak komplit. Asam amino yang terdapat dalam jumlah terbatas untuk memungkinkan pertumbuhan dinamakan “asam amino pembatas” (limiting amino acid). Metionin merupakan asam amino pembatas kacang-kacangan dan lisin dari beras.

Campuran dua jenis protein nabati atau penambahan sedikit protein hewani ke protein nabati akan menghasilkan protein bermutu tinggi dengan harga relative rendah.

Penilaian Mutu Protein

Mutu protein dalam berbagai bahan makanan dapat diukur dengan beberapa cara:

1. Nilai biologic (NB)

Nilai biologic (NB) makanan adalah jumlah nitrogen yang ditahan tubuh untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh yang berasal dari jumlah nitrogen yang di absorpsi.
Nilai biologic dinyatakan sebagai persen nitrogen yang diabsorpsi dan yang ditahan tubuh.

 

Makanan yang mempunyai nilai NB 70 atau lebih dianggap mampu memberi pertumbuhan jika dimakan dalam jumlah cukup dan konsumsi energy mencukupi.

2. Net protein utilization (NPU)

            Net protein utilization (NPU) adalah indeks mutu yang tidak saja memperhatikan jumlah protein yang ditahan akan tetapi juga jumlah yang di cernakan.

NPU = NB koefisien cerna

3. Protein efficiency ratio (PER)

            Protein efficiency ratio (PER) merupakan pengukuran mutu protein makanan yang di tetapkan oleh kemampuan protein menghasilkan pertumbuhan pada tikus muda.

 

PER digunakan sebagai criteria mutu protein dalam memberi label makanan jadi.

4. Skor kimia / Skor Asam Amino

            Skor Kimia adalah cara menetapkan mutu protein dengan membandingkan kandungan asam amino esensial dalam bahan makanan dengan kandungan asam amino esensial yang sama dalam protein patokan / ideal, misalnya protein telur.                     

 

2.2 Sumber Protein

            Sumber protein ada dua, yaitu protein hewani dan protein nabati. Sumber makanan hewani merupakan sumber makanan yang baik, dalam jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, ikan dan kerang. Protein hewani pada umumnya mempunyai asam amino yang paling sesuai untuk kebutuhan manusia. Bahan makanan nabati yang kaya akan protein adalah kacang-kacangan terutama kacang kedelai, tetapi terbatas dalam asam amino metionin.

Mutu Protein Beberapa Bahan Makanan

Bahan Makanan

NB*

NPU**

PER***

Skor Kimia/

Skor asam

amino

Telur

Susu Sapi

Ikan

Daging Sapi

Beras Tumbuk

Kacang tanah

Beras giling

Gandum utuh

Jagung

Kacang Kedelai

Biji-bijian

100

93

76

74

86

55

64

65

72

73

62

94

82

67

59

55

57

49

36

61

53

3,92

3,09

3,55

2,30

1,65

2,18

1,53

2,32

1,77

100

95

71

69

67

65

57

53

49

47

42

 

2.3 Kebutuhan Asam Amino dan Protein

            Kebutuhan protein menurut FAO/WHO/UNU (1985) adalah konsumsi protein yang diperlukan untuk mencegah kehilangan protein tubuh dan memungkinkan produksi protein yang diperlukan dalam masa pertumbuhan, kehamilan atau menyusui. Angka kecukupan Protein  (AKP) orang dewasa menurut hasil penelitian keseimbangan nitrogen adalah 0,75 gram/kg berat badan, berupa protein patokan tinggi yaitu protein telur yang mempunyai mutu dan daya manfaat 100 %. Keseimbangan nitrogen adalah apabila jumlah konsumsi nitrogen melalui makanan sama dengan kehilangan nitrogen dari tubuh melalui urin, feses dan permukaan kulit.

2.4 Akibat Kekurangan dan Kelebihan Protein

 Akibat kekurangan protein:

  1. Menyebabkan kwashiokor pada anak-anak dibawah lima tahun. Kwashiokor merupakan penyakit yang timbul setelah anak tidak minum ASI lagi dan hanya memperoleh makanan yang rendah protein tinggi karbohidrat. Gejalanya adalah pertumbuhan terhambat, otot-otot berkurang dan lemah, edema pada perut, kaki, tangan, anak apatis, tidak ada nafsu makan, suka merengek, kulit dan rambut mengalami depigmentasi, kering dan pecah-pecah, terjadi perlemakan hati dan gangguan psikomotorik.
  2. Menyebabkan marasmus, yaitu penyakit kelaparan yang disebabkan oleh kekurangan protein, bersamaan kekurangan energi pada bayi (dua belas bulan pertama). Gejalanya adalah pertumbuhan terhambat, lemak dibawah kulit dan otot berkurang dan melemah, tidak ada edema tetapi terjadi perubahan pada kulit, rambut, anak kelihatan seperti tua, waspada dan lapar sering terjadi gangguan gastroenteritis yang diikuti oleh dehidrasi, infeksi saluran pernafasan, tuberculosis dan penyakit kronis lain.

Tabel Perbedaan antara Kwasiokor dan marasmus.

Gejala

Kwasiokor

Marasmus

Edema

Ada

Tidak ada

Hipoalbuminemia

Ada, bisa jadi berat

Ringan

Perlemakan Hati

Ada

Tidak ada

Kadar insulin

Dipertahankan

Rendah

Kadar kortisol

Normal

Tinggi

Penciutan otot

Tidak ada atau ringan

Bisa jadi berat

Lemak tubuh

berkurang

Tidak ada

 

Akibat Kelebihan Protein:

  1. Memberatkan ginjal dan hati memetabolisme dan mengeluarkan nitrogen.
  2. Dapat menimbulkan asidosis, dehidrasi, diare, kenaikan amoniak darah, kenaikan ureum darah, dan demam.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Simorangkir, Murniaty. 2011. BIOKIMIA NUTRISI. Medan: Universitas Negeri Medan

Poedjiadi, Anna. 2007. DASAR-DASAR BIOKIMIA. Jakarta: Universitas Indonesia

Murray, Robert K, dkk. 1997. BIOKIMIA HARPER. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

 

Agar tidak bersifat sombong dan angkuh,, Mei 11, 2012

Filed under: Uncategorized — hildajunandaharahap @ 10:22 am

Beberapa panduan Imam Al- Ghazali supaya kita tidak bersifat sombong dan angkuh

1. Jika berjumpa dengan kanak-kanak, anggaplah kanak-kanak itu lebih mulia daripada kita, karena kanak-kanak ini belum banyak melakukan dosa daripada kita.

2. Apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah dia lebih mulia daripada kita karena dia sudah lama beribadat.

3. Jika berjumpa dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia daripada kita karena banyak ilmu yang telah mereka pelajari dan ketahui.

4. Apabila melihat orang jahil, anggaplah mereka lebih mulia daripada kita karena mereka membuat dosa dalam kejahilan, sedangkan kita membuat dosa dalam keadaan mengetahui.

5. Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia karena mungkin satu hari nanti dia akan insaf dan bertaubat atas kesalahannya.

6. Apabila bertemu dengan orang kafir, katakan didalam hati bahwa mungkin pada suatu hari nanti mereka akan diberi hidayah oleh Allah dan akan memeluk Islam, maka segala dosa mereka akan diampuni oleh Allah.

Semoga bermanfaat…

 

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.